Allah memulai sejarah perjalanan kemanusiaan yang sangat panjang ini dari surga. Allah menciptakan Nabi Adam – bapak moyang seluruh umat manusia - dan menjadikannya penghuni surga. Sebagaimana kita semua telah tahu, karena godaan dan bujuk rayu setan, Nabi Adam melakukan suatu pelanggaran yang membuatnya (dan Hawa) diusir dari Surga. Dan sejak dari dikeluarkannya Nabi Adam dan Hawa dari surga inilah perjalanan sejarah kemanusiaan memasuki episode baru. Episode hidup di dunia.
Di dalam Al Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang memotivasi kita untuk meraih surga. Demikian juga dengan hadist-hadist Rasul SAW. Kita banyak didorong untuk bisa memasuki surga, yang berarti kembali ke tempat asal kita. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pada hakekatnya kehidupan di dunia ini adalah perjalanan untuk kembali pulang ke tempat tinggal sejati kita, surga.
Tapi, sebagaimana layaknya yang kadang terjadi dalam suatu perjalanan, kita kadang menjumpai orang yang berhasil kembali pulang ke rumahnya, tapi tidak sedikit pula kita menjumpai musafir yang tidak berhasil kembali pulang.
Karena kasih sayang-NYA, Allah memberikan banyak petunjuk agar kita bisa kembali pulang. Paling tidak ada dua jenis petunjuk yang diberikan oleh Allah. Bentuk pertama adalah petunjuk yang bersifat eksplisit. Petunjuk bentuk ini memang secara jelas diproklamasikan Allah sebagai petunjuk. Petunjuk ini berupa kitab suci dan kehadiran para utusanNYA, rasul-rasul yang mulia.
Bentuk kedua adalah petunjuk yang tersamar. Yang tidak langsung dapat dipahami sebagai petunjuk. Diperlukan perenungan yang mendalam untuk bisa mengartikannya sebagai petunjuk. Petunjuk ini berupa alam ciptaanNYA. Allah sengaja merancang alam ini dengan keteraturan yang sangat sempurna sebagai salah satu jalan bagi manusia untuk bisa menemukan petunjuk tentang adanya zat yang Maha Mengatur. Meyakini adanya zat yang Maha Mengatur adalah merupakan petunjuk pertama manusia untuk bisa pulang kembali ke tempat asal.
Sebagai orang yang beragama Islam, sebetulnya kita adalah orang yang telah dipilih Allah untuk mendapatkan petunjukNYA. Namun, tidak semua kita bisa mendapatkan manfaat dari petunjuk tersebut. Agar bisa mendapatkan manfaat dari petunjuk yang telah ditebarkan oleh Allah, maka diperlukan upaya aktif kita, yang meliputi beberapa hal, diantaranya:
1. Bersyukur kepada Allah karena telah memilih kita untuk menjadi hambaNYA yang mendapatkan petunjuk. Syukur ini hanya bisa dilakukan apabila kita menganggap bahwa petunjuk itu memang penting bagi kita.
2. Memohon kepada Allah, agar petunjuk-petunjuk tersebut tidak dicabut dari diri kita. Salah satunya adalah melalui do’a ”Robbana la tuzigh quluubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rohmah , innaka Antal Wahaab”, yang artinya : ”Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Kau palingkan hati ini setelah datangnya petunjuk ini kepada kami dan berikanlah kami kasih sayang-Mu, karena sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha Pemberi"
3. Terus berusaha memahami arti petunjuk yang telah diterima dan mengamalkannya.
4. Turut menyebarkan petunjuk kepada yang lain.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hambaNYA yang tetap setia dengan petunjuk yang telah diberikan dan dengannya dapat menempuh perjalanan pulang ke tempat asal kita yang hakiki, surga. Amin.
Senin, 22 Maret 2010
Saya Nge-Blog
Pagi ini, di KRL Ekonomi Jabodetabek jurusan Serpong – Tanah Abang, di tengah himpitan para penumpang yang berjejalan menuju tempat aktifitas masing-masing, Saya teringat dengan blog seorang kawan yang sempat saya akses beberapa waktu yang lalu.
Blog kawan saya tersebut berisikan berbagai pengalaman keseharian yang dialaminya. Ada tulisan tentang pengalamannya kehilangan HP akibat dicopet, bersepeda ke kantor di daerah Thamrin dari rumahnya yang ada di sekitar Bintaro, pengalamannya beri’tikaf di Bulan Ramadhan serta penggalan cerita-cerita keseharian lainnya.
Ditengah lamunan saya tentang blog kawan tersebut, terlintas dalam kepala saya untuk juga membuat sebuah blog yang berisikan tulisan tentang hal-hal yang selama ini hanya berada di kepala saya saja. Banyak hal yang selama ini berada dalam benak saya yang tidak sekalipun terungkapkan dalam bentuk tulisan. Semuanya hanya berada di tataran pemikiran. Tujuan dari hidup ini, pemikiran tentang tokoh-tokoh, kesan terhadap buku yang saya baca, adalah segelintir dari banyak hal yang selama ini hanya mengisi sel-sel kelabu otak saya.
Lintasan pikiran dalam kepala saya mewujud menjadi pertanyaan-pertanyaan. Apa tujuan membuat blog yang berisi tulisan-tulisan saya ? Manfaat apa yang saya dapat dari menulis ? Sanggupkah saya selalu konsisten menulis dan meng-update blog saya ?
Belum sempat pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab, KRL yang saya naiki sudah sampai ke stasiun tujuan saya, Tanah Abang. Saya bergegas turun dari kereta untuk melanjutkan perjalanan ke kantor dengan menggunakan bajaj. Seperti biasa, jika harus naik bajaj, saya berusaha mencari yang berbahan bakar gas, karena lebih bersahabat dengan lingkungan dan nyaman.
Diatas bajaj BBG, lintasan-lintasan pikiran utk membuat blog semakin mengkristal. Tapi lintasan pikiran itu belum cukup kuat untuk mampu memotivasi saya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak saya belum juga terjawab. Sampai akhirnya ketika saya harus turun dari Bajaj, saya teringat dengan ucapan seorang sahabat Rasul SAW, Ali Bin Abi Thalib, yang mengatakan,” Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Teringat dengan ucapan ini, tiba-tiba semangat saya membuncah, motivasi saya menulis menggelegak. Pertanyaan-pertanyaan yang sempat muncul tidak lagi menjadi penting buat saya. Pokoknya, saya harus menulis.
Tiba di ruangan kerja, saya segera menghidupkan notebook. Saya lihat saya masih memiliki waktu sebelum jam kerja resmi mulai berlaku. Saya mengakses beberapa situs internet untuk mencari tambahan referensi bagi tulisan yang rencananya akan menjadi tulisan pertama saya. Namun, semakin lama saya browsing, semakin saya bingung dan kehilangan orientasi. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul. Ketika jam kerja resmi tiba, saya memutuskan untuk berhenti browsing dan berusaha menekuni pekerjaan saya.
Setelah menyelesaikan beberapa paper works dan menghadiri rapat, saya kembali ke meja kerja saya. Melihat notebook, keinginan untuk menulis kembali menguat. Saya berfikir, untuk dapat menumbuhkan semangat menulis dan membuat blog, agaknya pertanyaan-pertanyaan yang sempat muncul harus dapat terjawab terlebih dahulu.
Ditengah-tengah lamunan saya, tiba-tiba jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja.
Menulis untuk konfirmasi
Saya harus menulis agar bisa mengkonfirmasikan kebenaran atau kesalahan pemikiran saya. Selamanya saya tidak akan tahu bahwa apa yang ada dibenak saya itu benar atau salah jika saya tidak mengungkapkannya ke orang-orang lain. Bentuk ungkapan yang paling bisa dikonfirmasi, ya melalui tulisan. Berbeda dengan ungkapan secara lisan, ungkapan dengan tulisan lebih mudah dikonfirmasikan dan di cross check di kemudian hari. Dengan membuat tulisan di sebuah Blog, maka peluang untuk mendapatkan konfirmasi dari berbagai sumber menjadi terbuka lebar. Selain itu, tulisan memberikan kesempatan lebih kepada orang lain dalam mengartikulasikan sanggahan, bantahan, ataupun konfirmasi.
Menulis dapat membantu berfikir sistematis
Dengan menulis, saya akan menjadi terlatih untuk dapat berfikir dengan lebih sistematis. Berfikir sistematis yang saya maksud disini adalah mendahulukan yang harus didahulukan dan mengakhirkan yang harus diakhirkan. Demikian juga dengan menulis. Menulis menuntut kita untuk mendahulukan apa yang harus lebih dahulu disampaikan. Karena, pada dasarnya ketika kita membuat tulisan, kita sedang merekonstruksi potongan-potongan pikiran yang ada di kepala kita. Agar potongan-potongan tersebut dapat membentuk gambaran yang utuh, maka harus diletakkan dalam tempat yang semestinya.
Menulis karena kebutuhan, bukan deadline
Karena menulis bagi saya adalah bertujuan untuk mengkonfirmasi dan merekonstruksi pemikiran saya, saya tidak mau terpenjara dengan keharusan untuk selalu memperbaharui blog saya. Saya pikir hal yang wajar saja apabila suatu blog tidak terupdate untuk beberapa waktu. Karena, blog-blog pribadi memang biasanya tidak ditujukan sebagai ”news hotline” yang memang dituntut untuk selalu update.
Merasa menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul, segera saja saya mulai menulis. Dan yang sedang anda baca ini, Insya Allah, adalah merupakan tulisan pertama saya yang merupakan pembuka dari serangkaian tulisan yang ada di Blog ini.
Last but not the least, mengakhiri tulisan ini, saya ingin menutupnya dengan doa berikut: “Ya Allah, jika membuat tulisan dalam sebuah blog adalah merupakan kebaikan yang akan memberikan manfaat bagi akhirat dan dunia saya, dan bagi orang-orang yang hamba cintai serta bagi yang membacanya, maka Ya Allah, mudahkanlah dan istiqomahkanlah hamba….. Ya Allah, jika ternyata hal ini tidak akan memberikan kebaikan, maka jauhkanlah Ya Allah…. Gantilah dengan ganti yang lebih baik…. Amin”
Blog kawan saya tersebut berisikan berbagai pengalaman keseharian yang dialaminya. Ada tulisan tentang pengalamannya kehilangan HP akibat dicopet, bersepeda ke kantor di daerah Thamrin dari rumahnya yang ada di sekitar Bintaro, pengalamannya beri’tikaf di Bulan Ramadhan serta penggalan cerita-cerita keseharian lainnya.
Ditengah lamunan saya tentang blog kawan tersebut, terlintas dalam kepala saya untuk juga membuat sebuah blog yang berisikan tulisan tentang hal-hal yang selama ini hanya berada di kepala saya saja. Banyak hal yang selama ini berada dalam benak saya yang tidak sekalipun terungkapkan dalam bentuk tulisan. Semuanya hanya berada di tataran pemikiran. Tujuan dari hidup ini, pemikiran tentang tokoh-tokoh, kesan terhadap buku yang saya baca, adalah segelintir dari banyak hal yang selama ini hanya mengisi sel-sel kelabu otak saya.
Lintasan pikiran dalam kepala saya mewujud menjadi pertanyaan-pertanyaan. Apa tujuan membuat blog yang berisi tulisan-tulisan saya ? Manfaat apa yang saya dapat dari menulis ? Sanggupkah saya selalu konsisten menulis dan meng-update blog saya ?
Belum sempat pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab, KRL yang saya naiki sudah sampai ke stasiun tujuan saya, Tanah Abang. Saya bergegas turun dari kereta untuk melanjutkan perjalanan ke kantor dengan menggunakan bajaj. Seperti biasa, jika harus naik bajaj, saya berusaha mencari yang berbahan bakar gas, karena lebih bersahabat dengan lingkungan dan nyaman.
Diatas bajaj BBG, lintasan-lintasan pikiran utk membuat blog semakin mengkristal. Tapi lintasan pikiran itu belum cukup kuat untuk mampu memotivasi saya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak saya belum juga terjawab. Sampai akhirnya ketika saya harus turun dari Bajaj, saya teringat dengan ucapan seorang sahabat Rasul SAW, Ali Bin Abi Thalib, yang mengatakan,” Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Teringat dengan ucapan ini, tiba-tiba semangat saya membuncah, motivasi saya menulis menggelegak. Pertanyaan-pertanyaan yang sempat muncul tidak lagi menjadi penting buat saya. Pokoknya, saya harus menulis.
Tiba di ruangan kerja, saya segera menghidupkan notebook. Saya lihat saya masih memiliki waktu sebelum jam kerja resmi mulai berlaku. Saya mengakses beberapa situs internet untuk mencari tambahan referensi bagi tulisan yang rencananya akan menjadi tulisan pertama saya. Namun, semakin lama saya browsing, semakin saya bingung dan kehilangan orientasi. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul. Ketika jam kerja resmi tiba, saya memutuskan untuk berhenti browsing dan berusaha menekuni pekerjaan saya.
Setelah menyelesaikan beberapa paper works dan menghadiri rapat, saya kembali ke meja kerja saya. Melihat notebook, keinginan untuk menulis kembali menguat. Saya berfikir, untuk dapat menumbuhkan semangat menulis dan membuat blog, agaknya pertanyaan-pertanyaan yang sempat muncul harus dapat terjawab terlebih dahulu.
Ditengah-tengah lamunan saya, tiba-tiba jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja.
Menulis untuk konfirmasi
Saya harus menulis agar bisa mengkonfirmasikan kebenaran atau kesalahan pemikiran saya. Selamanya saya tidak akan tahu bahwa apa yang ada dibenak saya itu benar atau salah jika saya tidak mengungkapkannya ke orang-orang lain. Bentuk ungkapan yang paling bisa dikonfirmasi, ya melalui tulisan. Berbeda dengan ungkapan secara lisan, ungkapan dengan tulisan lebih mudah dikonfirmasikan dan di cross check di kemudian hari. Dengan membuat tulisan di sebuah Blog, maka peluang untuk mendapatkan konfirmasi dari berbagai sumber menjadi terbuka lebar. Selain itu, tulisan memberikan kesempatan lebih kepada orang lain dalam mengartikulasikan sanggahan, bantahan, ataupun konfirmasi.
Menulis dapat membantu berfikir sistematis
Dengan menulis, saya akan menjadi terlatih untuk dapat berfikir dengan lebih sistematis. Berfikir sistematis yang saya maksud disini adalah mendahulukan yang harus didahulukan dan mengakhirkan yang harus diakhirkan. Demikian juga dengan menulis. Menulis menuntut kita untuk mendahulukan apa yang harus lebih dahulu disampaikan. Karena, pada dasarnya ketika kita membuat tulisan, kita sedang merekonstruksi potongan-potongan pikiran yang ada di kepala kita. Agar potongan-potongan tersebut dapat membentuk gambaran yang utuh, maka harus diletakkan dalam tempat yang semestinya.
Menulis karena kebutuhan, bukan deadline
Karena menulis bagi saya adalah bertujuan untuk mengkonfirmasi dan merekonstruksi pemikiran saya, saya tidak mau terpenjara dengan keharusan untuk selalu memperbaharui blog saya. Saya pikir hal yang wajar saja apabila suatu blog tidak terupdate untuk beberapa waktu. Karena, blog-blog pribadi memang biasanya tidak ditujukan sebagai ”news hotline” yang memang dituntut untuk selalu update.
Merasa menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul, segera saja saya mulai menulis. Dan yang sedang anda baca ini, Insya Allah, adalah merupakan tulisan pertama saya yang merupakan pembuka dari serangkaian tulisan yang ada di Blog ini.
Last but not the least, mengakhiri tulisan ini, saya ingin menutupnya dengan doa berikut: “Ya Allah, jika membuat tulisan dalam sebuah blog adalah merupakan kebaikan yang akan memberikan manfaat bagi akhirat dan dunia saya, dan bagi orang-orang yang hamba cintai serta bagi yang membacanya, maka Ya Allah, mudahkanlah dan istiqomahkanlah hamba….. Ya Allah, jika ternyata hal ini tidak akan memberikan kebaikan, maka jauhkanlah Ya Allah…. Gantilah dengan ganti yang lebih baik…. Amin”
Langganan:
Postingan (Atom)